Sukses

Top 3: Pemicu Banjir Bandang di Bandung

Liputan6.com, Bandung - Derasnya intensitas hujan yang turun di Kota Bandung, pada Senin, 24 Oktober kemarin membuat sejumlah wilayah di kota kembang ini terendam banjir hingga ketinggian satu meter.

Kawasan yang terdampak paling parah ada di Jalan Pasteur. Di sepanjang jalan utama ini air menutupi seluruh jalan layaknya sungai mengalir.

Derasnya arus membuat sejumlah kendaraan tak dapat diselamatkan. Begitu pula seorang karyawan toko yang ikut menjadi korban keganasan banjir di Bandung.

Lalu apa sebenarnya pemicu banjir Bandung? Salah satunya ialah minimnya jumlah drainase di kota tersebut.

Hingga malam ini, banjir bandang yang terjadi di Bandung paling banyak menyita perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional, Selasa (25/10/2016).

Kabar lainnya yang juga tak kalah diburu adalah polisi berhasil membekuk otak penculikan bocah balita berusia 3,5 tahun, Sabita Mahfudia Laila.

Selain itu ada pula informasi yang berisi lima SMA rujukan atau percontohan di Surabaya yang bertaraf internasional.

Berikut berita-berita terpopuler yang terangkum dalam Top 3 Regional:

1. Apa Penyebab Banjir Bandung?

(@ajatgomehz)

Pakar tata kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Denny Zulkaidi menyebutkan ada berbagai macam faktor penyebab banjir yang terjadi di Kota Bandung. Salah satunya ialah minimnya jumlah drainase di kota tersebut.

"Yang harus diperhatikan itu adalah bertambahnya luas kawasan terbangun. Airnya melimpah tidak meresap, ruang terbuka hijau, sumur serapan, drainase tidak memadai. Air hujan harusnya masuk ke drainase, tapi malah ke badan jalan," kata Denny Zulkaidi, Senin, 24 Oktober 2016, dilansir Antara.

Solusi jangka pendek, kata dia, adalah dengan membersihkan drainase dari sampah dan sedimentasi. Solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir adalah memperbanyak ruang terbuka hijau dan ruang terbuka hijau privat di setiap rumah warga.

"Idealnya memang jumlah ruang terbuka hijau yang harus dimiliki oleh Pemkot Bandung adalah 20 persen dari total luas wilayah yang ada," kata dia.

Selengkapnya... 

2. Akhir Pelarian 2 Penculik Bocah Sabita

 Sabita Mahfudiah Lailia, bocah 3,5 tahun warga Poncokusomo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi korban penculikan. (Foto: Istimewa)

Polisi akhirnya menangkap dua orang yang diduga menjadi otak penculikan bocah Sabita Mahfudia Laila.

Kuat dugaan kedua pelaku itu adalah orang yang sama saat mengantar bocah Sabita pulang ke rumah orangtuanya di Dusun Nongkosewu, RT 02 RW 01, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang pada Minggu malam, 23 Oktober 2016.

Ia tak mengelak saat disebut kedua pelaku itu kenal baik dengan keluarga korban. Namun Andik belum mau menyebut identitas kedua pelaku itu dan apa motif mereka melakukan aksi penculikan tersebut.

Selengkapnya...

3. 5 SMA Rujukan di Surabaya

Ilustrasi pelajar SMA. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjuk lima SMA di Surabaya, Jawa Timur, yang akan dijadikan rujukan atau percontohan bagi sekolah lain guna melakukan proyek pemerataan kualitas pendidikan.

Ketua panitia sosialisasi, Jonni Sucahyono, mengatakan, kelima sekolah di Surabaya yang telah ditunjuk sebagai rujukan bagi sekolah lain, yaitu SMA Negeri 2, SMA Negeri 5, SMA Muhammadiyah 2, SMA Al Hikmah, dan SMA Khadijah.

Penunjukan lima sekolah sebagai sekolah rujukan ini, lanjut Jonni, berdasarkan beberapa penilaian. Di antaranya, telah menetapkan kurikulum 2013, telah menggunakan komputer ketika ujian nasional, nilai ujian nasional di atas rata-rata, memiliki integritas baik serta dalam lima tahun terakhir rata-rata hasil ujian nasionalnya baik.

"Ditunjuknya sekolah rujukan ini, guna meningkatkan mutu kegiatan pembelajaran bagi sekolah yang lain. Mereka dapat menularkan ke beberapa sekolah, sehingga kualitas pendidikan bisa merata," kata Jonni.

Selengkapnya...