Sukses

Top 3: Bukti Jejak Illuminati di Eks Lahan Pabrik Gula Gempol

Liputan6.com, Cirebon - Keberadaan kuburan Belanda dengan simbol Illuminati di atas bangunan makam menjadi daya tarik wisatawan, terutama dari Belanda untuk datang ke bekas lahan Pabrik Gula (PG) Gempol di Kabupaten Cirebon.

Simbol Illuminati ditandai dengan bentuk segitiga dengan satu mata yang berada di tengah-tengah bangunan. Konon katanya simbol ini mewakili sebuah kelompok rahasia yang berdiri pada 1 Mei 1776 di Jerman yang membawa misi pencerahan. 

Meski kini tanda Illuminati pada kuburan Belanda itu sudah tertutup ilalang dan rumput liar, tak menyurutkan mereka untuk terus mengunjungi lahan PG Gempol untuk berziarah makam.

Sayangnya peninggalan sejarah ini kurang mendapat perhatian dari pemda setempat. Karena dapat menjadi objek wisata sejarah bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke Kabupaten Cirebon.

Keberadaan simbol Illuminati di kuburan Belanda di Cirebon menjadi berita yang paling banyak menyita perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional, pada Jumat (21/10/2016). 

Kabar lainnya yang juga tak kalah menarik mengenai kondisi Mak Eni yang menderita lumpuh selama 20 tahun telah menyita perhatian Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Selain itu ada pula informasi tentang Bukit Asmara di Banjarnegara yang menjadi destinasi favorit para wisatawan untuk melakukan selfie di atas awan.

Berikut tiga berita terpopuler yang dirangkum dalam Top 3 Regional:

1. Cerita Simbol Iluminati di Kuburan Belanda Tak Terurus

Kuburan Belanda yang sempat menjadi magnet warga Belanda kini terkesan angker karena tak terurus. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Sebuah sudut di lahan eks Pabrik Gula (PG) Gempol terdapat sejumlah kuburan Belanda tak terurus. Tepatnya berada di Desa Balerante, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

Makam yang disinyalir sudah ada sejak 1907 itu kini dalam kondisi yang tidak terawat.

Sebelum PG Gempol diambil alih oleh PG Rajawali, banyak keluarga dari Belanda berkunjung ke area pabrik. Selain berziarah ke makam, mereka juga menghadiri acara tradisi Pesta Giling Tebu.

Dalam acara budaya tersebut, warga bersama keluarga dari Belanda beramai-ramai membersihkan seluruh area PG Gempol. Termasuk, areal pemakaman yang di dalamnya terdapat simbol Ilmunati.

Namun, kondisi berubah setelah tradisi itu tidak lagi dilangsungkan. Bahkan, sejumlah prasasti maupun simbol yang menandakan pemakaman Belanda tersebut juga hilang.

Selengkapnya... 

2. Mak Eni Lumpuh 20 Tahun, Ini Reaksi Bupati Dedi

Mak Eni lumpuh 25 Tahun dan dijamin biaya hidupnya oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Kamis, 20 Oktober 2016. (Abramena/Liputan6.com)

Usai menggelar syukuran pada Kamis, 20 Oktober 2016 kemarin, Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi secara spontan berkeliling ke permukiman warga.

Saat berjalan dia dihampiri seorang warga yang diketahui bernama Emi (60). Ia menyampaikan isi hati mengenai kondisi adiknya yang mengalami kelumpuhan dan berpuluh-puluh tahun terbujur kaku.

"Adi abdi, pak, ieu tos puluhan tahun teu damang kieu. (Ini adik saya, Pak. Sudah puluhan tahun sakit seperti ini)," jelas Emi.

Kelumpuhan Eni sendiri sebenarnya sudah terdeteksi saat usianya memasuki 20 tahunan. Puncaknya pada usia 30 tahun, dia mengalami kelumpuhan total dari bagian badan, tangan, pinggul, hingga kaki. Sejak saat itu pun kelangsungan hidupnya dihabiskan di atas tempat tidur.

Mendengar itu, Dedi pun sempat membujuk Eni untuk pindah ke salah satu kamar yang berada di bagian tengah rumah. Namun dengan senyuman Eni menolak tawaran Dedi dengan alasan di masa tuanya itu tak mau menyusahkan sang kakak yang telah berkeluarga.

Selengkapnya...

3. Sensasi Negeri Atas Awan di Bukit Asmara

Tiket masuk ke Bukit Asmara Situk hanya Rp 5 ribu untuk hari biasa dan Rp 10 ribu untuk akhir pekan.

Bukit Asmara Situk (BAS) yang berlokasi di Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, kini mulai ramai dikunjungi wisatawan dari luar daerah sejak dibuka Januari tahun ini.

Mereka datang karena ingin selfie di ketinggian. Rata-rata jumlah kunjungan wisatawan tiap harinya antara 50–100 orang.

Lokasi BAS cukup dekat dari Ibu Kota Banjarnegara dan mudah terlihat karena berada di pinggir jalan Banjarnegara–Karangkobar. Jaraknya kurang lebih 15 kilometer dari Banjarnegara.

Jalur tanjakan itu sekitar 700 meter untuk sampai ke puncak. Di beberapa titik, tanjakannya cukup curam hingga 45 derajat.

"Tapi wisatawan akan terbayarkan lelahnya jika sudah sampai puncak sebab pemandangannya sungguh indah. Apalagi kalau pagi dan sore. Ada kabut tipis yang menutupi pemandangan di bawahnya. Seperti berada di negeri atas awan," tutur Sarkum.

Selengkapnya...