Sukses

Hujan Terus Mengguyur, Daerah Rawan Bencana Jawa Dilanda Banjir

Liputan6.com. Surabaya - Sebanyak empat daerah di Jawa Timur kebanjiran setelah hujan deras mengguyur wilayah itu seharian. Keempat daerah tersebut adalah Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Sampang, Madura.

"Daerah yang paling parah adalah banjir di Sampang," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Sudharmawan, Senin, 10 Oktober 2016.

Sudharmawan mengatakan, banjir yang terjadi di Sampang membuat puluhan desa terendam air. Di antaranya Desa Komuning ketinggian air mencapai 60 cm, Pasean 60 cm, Tanggumung bagian timur 60 cm, Panggung 50 hingga 80 cm, Gunung Maddah 60 hingga 100 cm.

Banjir juga merendam kantor Kelurahan Dalpenang di Jalan Imam Bonjol depan RRI dengan ketinggian air mencapai 80 hingga 130 cm, di depan SMP 6 mencapai 80 hingga 120 cm, di depan SMK I dan Jalan Suhadak 70-110 cm, Jalan Melati 80-170 cm, Jalan Mawar 60-110 cm, Jalan Teratai 80-130 cm, Jalan sekitaran Monumen 70-120 cm, dan Jalan Delima 60-110 cm.

"Penyebab banjir mirip seperti banjir Bulan September lalu, karena luapan air Sungai Komuning sejak pukul 13.00 WIB. Air meluber hingga ke beberapa daerah di Sampang," kata Sudharmawan.

Menurut dia, genangan air di sejumlah daerah di Sampang berpotensi naik. Itu dikarenakan air laut sedang pasang.

"Kalau air laut sedang pasang, maka butuh waktu lama air bisa surut," ucap dia.

Selain Sampang, hal serupa juga terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Ada delapan kecamatan di Sidoarjo terendam air. Di antaranya adalah Desa Sadang, Kecamatan Taman, dan Kecamatan Gedangan di Desa Keboan Sikep, dan Desa Tebel ketinggian air masing-masing mencapai 15-30 cm.

Banjir juga menggenangi Desa Semampir, Kecamatan Sedati; Desa Banjar Kemantren, Desa Sono, Desa Buduran di Kecamatan Buduran; Desa Kemangseng di Kecamatan Balongbendo; Desa Barengkrajan di Kecamatan Krian; Desa Sedati Gedhe di Kecamatan Sedati; dan Desa Pucang Anom, Desa Gajah dan Desa Bluru di Kecamatan Sidoarjo.

"Genangan air di sejumlah kecamatan tersebut rata-rata ketinggiannya mencapai 15 hingga 30 cm. Sedangkan di Jalan Raya Trosobo, genangan air mencapai sekitar 60 cm. Tapi, sekarang mulai surut," ujar dia.

Sudharmawan mengatakan banjir di Kabupaten Ngawi hanya menggenangi dua titik, yakni menggenangi persawahan setinggi kurang lebih 70 cm dan menggenangi badan jalan Desa Purwosari, dan Desa Simo dengan ketinggian air sekitar 30 cm.

"Air cenderung surut. Namun, BPBD Kabupaten Ngawi masih terus memantau," kata dia.

Sementara itu, banjir di Trenggalek mulai surut. Menurut dia, saat ini warga bersama Forpimda dan BPBD Trenggalek tengah membersihkan kotoran bekas banjir yang terjadi sejak pagi hingga siang hari sekira pukul 12.00 WIB.

"Kondisi banjir di Kecamatan Gandusari dan Kecamatan Pogalan terlaporkan telah surut. Kondisi pengungsi yang berada di kantor Kecamatan Pogalan telah kembali ke rumah masing-masing, dan saat ini melakukan pembersihan tempat tinggal akibat dampak banjir," ujar Sudharmawan.

1 dari 2 halaman

Longsor Intai Banjarnegara

Hujan yang melanda Jawa Tengah bagian selatan selama beberapa hari membuat sejumlah daerah dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Di Cilacap, sebanyak 10 desa terendam banjir sejak Ahad lalu hingga saat ini.

"Kecamatan yang paling parah dilanda banjir yakni Kedungreja dan Sidareja," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap, Tri Komara Sidhy, Senin kemarin.

Ia mengatakan, banjir juga merendam jalan alternatif menuju Pangandaran. Akibatnya, antrean panjang terjadi tepatnya di ruas Jalan Patimuan. Antrean semakin parah karena putusnya jembatan di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Tri mengatakan, genangan air di badan sungai mencapai 40 sentimeter. Air tersebut berasal dari Sungai Pelimpahan yang meluber karena tak kuasa menampung debit air hujan yang turun sepanjang hari.

Camat Patimuan, Muji Utomo mengatakan, banjir melanda daerah itu sejak pukul 08.00 WIB. Jalan nasional penghubung Jawa Tengah dan Jawa Tengah terputus akibat banjir tersebut.

"Saat ini jalan menuju Pangandaran belum bisa dilalui," kata dia.

Andri Sulistyo, staf BPBD Banjarnegara mengatakan, sejumlah titik di Banjarnegara longsor akibat hujan yang melanda wilayah ini terus menerus. "Sejumlah 77 rumah terancam longsor, mereka kini mengungsi," kata Andri.

Ia mengatakan, tebing di atas pemukiman itu kini sudah retak. Hasil pemantauan ahli geologi menyatakan daerah itu sangat rawan bencana longsor besar. Selain itu, 16 rumah di Pengadegan juga diterjang banjir lumpur yang berasal dari atas bukit.

Sementara itu, belasan warga Dusun Plandi Desa Watuagung Tambak berencana mendatangi Bupati Banyumas untuk mempertanyakan kelanjutan relokasi 15 rumah yang terancam longsor. "Janjinya tiga bulan relokasi selesai. Ini sudah tiga bulan belum kelihatan ada kemajuan berarti," kata Ketua RW 8 Plandi, Sutarman.