Sukses

Top 3: Jual Tanah Warisan demi Dimas Kanjeng, Istri Dicerai Suami

Liputan6.com, Probolinggo - Dengan iming-iming bisa menggandakan uang, pemilik Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur, berhasil memukau ribuan pengikut dari tingkat intelektual, pengusaha, hingga masyarakat bawah.

Bahkan, sampai hari ini ada beberapa pengikutnya yang masih setia bertahan menunggu kebebasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di tenda-tenda sederhana yang terletak di Dusun Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading.

Salah satunya adalah Juawariyah, warga Dusun Susukan, Desa Nguling, Probolinggo. Ia mengaku nekat menjual tanah warisan milik suaminya, Mustopa, di Pangandaran, Jawa Barat, hanya untuk modal penggandaan uang.

Berita lainnya yang tak kalah menyita perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional, Kamis (6/10/2016), yakni berita kepergian istri Kapolsek Karangsembung yang telah meninggal lebih dulu sebulan lalu. Dan grup kasidah di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ikut ambil bagian dalam perayaan keagamaan Nasrani.

 Berikut berita populer selengkapnya yang terangkum dalam Top 3 Regional:

1. Gara-Gara Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Istri Diceraikan Suami

Dimas Kanjeng mampu mengembalikan uang milik santri padepokan jika diminta.

Juawariyah (42), warga Dusun Susukan, Desa Nguling merupakan pengikut Dimas Kanjeng. Kepadanya, Juawariyah mengaku menjadi korban penipuan Taat Pribadi.

Sejak menjadi pengikut Dimas Kanjeng, Juawariyah nekat menjual tanah warisan milik suaminya, Mustopa, di Pangandaran, Jawa Barat, untuk modal penggandaan uang. Namun, uang yang diharapkan tidak kunjung ada dan ia bahkan diceraikan suaminya akibat hal itu pada tiga tahun lalu.

Masalah Juawariyah semakin pelik setelah dititipi tetangganya, Sulistiyowati, sebesar Rp 460 juta yang tertarik dengan iming-iming penggandaan uang oleh Dimas Kanjeng.

"Belum tetangga lainnya yang malu mengaku. Nah, Sulistiyowati hari ini akan saya dampingi melaporkan ke polisi, Karena dia merasa jadi korban penipuan penggandaan uang itu," tutur Mulyono kepada Liputan6.com di Padepokan Dimas Kanjeng.

Selengkapnya...

2. Istri Kapolsek Karangsembung Gantung Diri Meninggal Sebulan Lalu

Keluarga tidak menduga Ipda Nyariman, Kapolsek Karangsembung meninggal bunuh diri. (Liputan6.com/Felek Wahyu)

Duka mendalam dirasakan keluarga Ipda Nyariman, Kapolsek Karangsembung, yang mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri di ruang kerjanya.

Muhadi, kerabat korban, mengaku terkejut dengan kabar meninggalnya korban yang baru menyandang pangkat perwira pertama itu. Sebab, ia baru menerima informasi meninggalnya istri Nyariman sebulan sebelumnya.

"Info yang kita terima, Ipda Nyariman yang bertugas sebagai Kapolsek di Karangsembung, Resort Gombong, mengakhiri hidup setelah rapat dengan Kapolres di Mapolsek Karangsembung," ucap dia, Kamis (6/10/2016).

Terkait permasalahan yang dihadapi almarhum, Muhadi mengaku tidak mengetahui persis mengingat ia jarang berkomunikasi dengan Nyariman.

Selengkapnya...

3. Adem, Grup Qasidah Tampil di Gereja Lembata NTT 

Sebelumnya, tokoh Muslim mengalungkan selendang kepada uskup. (Liputan6.com/Ola Keda)

Umat Islam turut terlibat dalam acara keagamaan Nasrani di Lembata, NTT.

Kelompok musik yang biasa membawakan lagu rohani Islam itu tampil dalam perayaan iman Katolik, yakni penerimaan Sakramen Penguatan oleh Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong Kung, Pr di Gereja Paroki Kristus Raja Wangatoa Lembata.

Sedikitnya, dua acara berupa lagu dan tarian qasidah yang dibawakan oleh sekitar 11 grup kasidah dari grup kasidah Masdjid Nurulsalam Wangatoa-Lembata-NTT.

Sebelumnya, pada Sabtu, 1 Oktober 2016 sebelum puncak perayaan, tokoh agama Islam mengambil bagian dalam prosesi penjemputan Uskup Kopong Kung. Hajah Manzur yang didampingi Haji Manzur Masan Purab selaku alim ulama mengalungkan selendang kepada uskup.

Selengkapnya....