Sukses

Sijagaron, Tanaman Kematian dalam Upacara Pemakaman Adat Batak

Liputan6.com, Lubuk Pakam - Simbol unik hadir dalam upacara pemakaman adat Batak Toba. Mereka menyebutnya sijagaron atau sanggul marata.

Sijaragon sebenarnya adalah tanaman yang dirangkai dengan beberapa benda lain yang digunakan dalam upacara pemakaman. Benda itu ditemui saat pesta pemakaman adat Batak yang digelar di Lubuk Pakam pada Rabu, 21 September 2016.

Sijagaron diletakkan di samping bagian atas peti mati orang yang meninggal. Tak sembarangan orang meninggal bisa mendapat sijagaron.

Rangkaian tanaman itu hanya bisa diberikan jika orang tersebut meninggal di usia lanjut dan punya banyak keturunan atau dalam istilah Batak “saur matua”.

Seorang penata sijagaron yang dipanggil Inang Sinaga itu menuturkan sijagaron yang berarti terpandang merupakan simbol keberhasilan seseorang yang meninggal semasa dia hidup.

Keberhasilan itu ditentukan jika semua anak orang yang meninggal itu sudah menikah dan hidup sukses atau disebut jagar.

Ia menambahkan, "Ini isinya juga bukan sembarangan. Harus ada sanggar, daun beringin, kemiri, telur, beras, dan lainnya. Semuanya disatukan dalam sebuah ampang (bakul)."

Dikutip AA Sibuea (2016), sijagaron terdiri dari beragam tanaman, yaitu hariara (ara), silinjuang (sejenis tumbuhan berbatang lurus), daun baringin (beringin), ompu-ompu (bunga bakung), sanggar (ilalang beruas), sihilap (sejenis tumbuhan daun seperti kipas), pilo-pilo (daun enau muda), gambiri (kemiri), eme (padi), dan pira ni manuk (telur ayam).

1 dari 2 halaman

Makna Hidup

Semua dirangkai dan ditancapkan ke dalam tumpukan padi dalam ampang yang terbuat dari anyaman bambu.

Masing-masing tanaman yang digunakan bermakna mendalam. Daun baringin, misalnya, diartikan sebagai keberhasilan dalam hidup harus memiliki kesatuan keluarga dan masyarakat yang berguna untuk orang banyak.

Padi bermakna orang yang meninggal sudah memiliki taraf hidup yang baik, ditandai dengan cukup pangan dan sandang. Ditambah bibit-bibit yang demikian telah diwariskannya kepada anak-cucunya.

Kemiri yang mengandung minyak bermakna untuk mencapai taraf hidup yang baik harus memberi arti bagi masyarakat sehingga bisa meresap serta diterima semua pihak.

Sementara, sanggar dimaknai disimbolkan sebagai kehidupan yang kerap turun-naik karena berbagai cobaan hidup, tapi tidak pernah patah.

"Nanti ini semua harus dibawa di atas kepala menantu perempuan keluarga si ompung ini (orang yang meninggal). Harus dibawa putar ruangan tiga kali. Begitu adatnya," kata Inang Sinaga.

Selesai acara, padi yang ada di ampang juga bisa disebar di halaman pemilik rumah. "Kalau padinya tumbuh, anak-cucu orang yang meninggal ini katanya akan sukses semua. Begitu kepercayaan di sini," tutur dia.

Meski demikian, para pelaku adat ini menolak dikatakan mempercayai kekuatan benda-benda tertentu. Menurut mereka, ini adalah sebuah instrumen adat dalam lingkup budaya. Fungsinya adalah untuk melestarikan budaya leluhur.

"Bukan, bukan, ini hanya simbol. Bukan percaya pada benda-benda itu (sijagaron). Ini untuk melestarikan budaya dan menghargai adat," ucap Abner, salah satu anggota keluarga yang meninggal.