Sukses

Top 3: Bukti Cinta di Balik Candi Prambanan dan Taj Mahal

Liputan6.com, Yogyakarta - Candi Prambanan di Yogyakarta disebut juga dengan Candi Lara Jonggrang. Dari legenda yang berkembang, candi itu buah perjuangan Bandung Bondowoso yang jatuh cinta kepada putri bernama Lara Jonggrang.

Namun kisah cintanya berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya.  Kisah ini juga menjelaskan asal mula yang ajaib dari Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah "dara (gadis) langsing".

Bukti cinta Bandung Bondowoso ini menurut catatan sejarah dikatakan memiliki kemiripan dengan kisah cinta Kaisar Mughal Shah Jahan kepada istri ketiganya yang telah meninggal karena melahirkan, Mumtaz Mahal. Untuk istri yang paling cintanya itu, ia mendirikan monumen Taj Mahal.

Hingga malam hari ini berita tersebut paling banyak menyita perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional, Senin (26/9/2016).

Informasi lainnya yang tak kalah diburu adalah diteriaki tahanan kabur usai makan di restoran ini dan status siaga Gunung Bromo.

 Berikut berita-berita terpopuler yang terangkum dalam Top 3 Regional:

1. Cerita Pembuatan Candi Prambanan Ternyata Mirip Kisah Taj Mahal

Kisah cinta Bandung Bandawasa untuk Lara Jongrang lebih terkenal dibandingkan sejarah asli dari pembuatan Candi Prambanan. (Liputan6.com/Switzy Sabandar)

Candi Prambanan yang berlokasi di perbatasan Sleman dan Klaten ternyata menyimpan cerita cinta. Legenda setempat mengisahkan, candi Hindu itu merupakan bukti cinta Bandung Bandawasa untuk Lara Jongrang.

"Candi Prambanan, selain sebagai bentuk unjuk kekuasaan Dinasti Sanjaya, juga merupakan persembahan cinta dari Rakai Pikatan untuk Pramudyawardani, penerus Dinasti Syailendra," ujar Ririn Darini, dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta kepada Liputan6.com, Selasa, 20 September 2016.

Namun sejarah justru mencatat, keberadaan candi yang juga dikenal dengan Seribu Candi itu mirip dengan Taj Mahal di India.

Taj Mahal merupakan monumen yang terletak di Agra, India, dan dibangun oleh Kaisar Mughal Shah Jahan untuk istri ketiga yang paling dicintainya bernama Mumtaz Mahal. Istrinya meninggal saat melahirkan anak ke-14 mereka pada 1631. Ia lalu membangun monumen cinta itu setahun kemudian.

Selengkapnya...

2. Siap-Siap Kaget, Masuk Resto Ini Bak Penjahat Tertangkap 

Pengunjung yang baru datang akan dipanggil sebagai tahanan baru. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Jangan tersinggung jika Anda disebut tahanan saat memasuki rumah makan yang berlokasi di Jalan Masjid Raya No 29 A, Makassar itu. 

Tidak berhenti di situ, Anda yang sudah selesai makan dan meninggalkan restoran akan kembali diteriaki. Kali ini, pengelola restoran akan menyebut Anda sebagai tahanan kabur dengan menggunakan pengeras suara.

Jenis toping atau lauk yang ditawarkan pun tak kalah unik. Pengelola restoran sengaja menggunakan penamaan yang diambil dari nama-nama institusi penegak hukum yakni, polisi, jaksa, hakim, pampres, kamra, Satpol PP dan Satpam.

Menurut Willem sang pemilik restoran, sapaan Tahanan Baru buat pengunjung yang baru datang serta Tahanan Kabur buat pengunjung yang hendak pulang, baginya agar membuat suasana di rumah makannya menjadi hangat dan unik.

"Sistem pelayanan self service, tiap ‘Tahanan Baru’ akan dipanggil dengan pengeras suara satu per satu dan mengambil peralatan makanan yang mirip di penjara," kata dia.

Selengkapnya...

3. Gunung Bromo Siaga, Wisatawan Dilarang Mendekat ke Pasir Berbisik

Ekspektasi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status Gunung Bromo dari level waspada menjadi level siaga pada Senin (26/9/2016) pukul 06.00 WIB. Dengan kenaikan status tersebut, baik warga maupun wisatawan tidak boleh mendekati kawah Gunung Bromo dan lautan pasir.

"Naiknya status Gunung Bromo memang benar saat ini. Memang tadi pagi mendadak naik, dari waspada menjadi siaga. Itu disebabkan karena sering terjadinya vulkanik dangkal berentetan," kata Kabid Mitigasi Kegunungapian PVMBG Bandung, Gede Swantika, kepada Liputan6.com, Senin (26/9/2016).

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga saat ini tidak ada pengungsian karena dalam radius tersebut tidak ada permukiman berdiri. Ia juga mengatakan wisatawan dapat tetap menikmati keindahan Gunung Bromo.

Sejak 24 September 2016, terjadi peningkatan signifikan jumlah gempa vulkanik dangkal (VB) yang mencapai jumlah 63 kejadian dan kejadian tremor menerus hari ini sejak pukul 13.00 WIB. Selama September 2016, terdengar suara gemuruh dari kawah Gunung Bromo, diikuti keluarnya asap tebal dari lubang kawah setinggi 50-900 m, dan teramati sinar api samar-samar hingga jelas dari kawah.

Selengkapnya...