Sukses

Top 3: Pengakuan Pejabat Palopo Cabul Saat Kubur UT dengan Semen

Liputan6.com, Palopo - Kasus dugaan pemerkosaan dan mengubur hidup-hidup UT, staf honorer di dalam lubang menggunakan cor semen, dengan tersangka AK, pejabat pada Dinas Kebersihan Pertamanan dan Permakaman Pemkab Palopo menyedot perhatian kalangan. AK pun mengungkapkan alasannya mengubur korbannya hidup-hidup di dalam lubang usai memperkosanya.

Selain itu, penyelamatan dramatis korban banjir Garut di Panti Asuhan Difabel, turut menyita perhatian banyak pembaca di Liputan6.com, terutama kanal Regional hingga Jumat (23/9/2016) malam.

Berikut berita-berita terpopuler yang terangkum dalam Top 3 Regional.

1. Alasan Pejabat Palopo Cabul Kubur Hidup-Hidup UT dengan Semen Cor

Ilustrasi kekerasan seksual pada anak (romatoday.it)

Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Palopo resmi menahan AK, pejabat pada Dinas Kebersihan Pertamanan dan Permakaman Pemkab Palopo yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerkosaan dan mengubur hidup-hidup UT, staf honorer di dalam lubang menggunakan cor semen.

Dalam keterangannya di hadapan penyidik, AK mengungkapkan alasannya mengubur korbannya hidup-hidup di dalam lubang usai memperkosanya. Ia mengaku gundah saat melihat tubuh korban tidak bergerak dan mengira UT sudah meninggal dunia usai diperkosa.

AK kemudian berinisiatif menguburkan korban dengan menggunakan semen cor agar jasad korban tak meninggalkan bau bangkai.

"Tersangka kebetulan sebagai kepala seksi permakaman sehingga ia mengubur korban yang ternyata belum meninggal tapi hanya pingsan ke dalam lubang yang tak jauh dari rumahnya agar tak meninggalkan jejak," kata Kasat Reskrim Polres Palopo AKP Awaluddin, Jumat (23/9/2016).

Selengkapnya...

2. Penyelamatan Dramatis Korban Banjir Garut di Panti Asuhan Difabel

PMI mengerahkan kendaraan Hagglund di Kampung Bojong Sudika, Cimacan, Garut, Jumat (23/9). Kendaraan hagglund guna mempermudah mobilisasi sukarelawan dan proses evakuasi di tengah kawasan yang penuh lumpur akibat banjir bandang. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Banyak cerita tersisa dari lokasi banjir bandang yang menimpa Garut pada Selasa malam, 20 September 2016. Salah satunya adalah penyelamatan pengurus panti asuhan anak-anak difabel Yayasan Tri Dharma.

Panti asuhan itu berlokasi di Jalan Pembangunan, Lapang Paris, Garut. Tepatnya bersebelahan dengan gedung Poli Paru, RSUD dr Slamet, yang juga terdampak banjir bandang pada malam nahas itu.

Air bah yang datang begitu cepat membuat pengasuh yang berjumlah sekitar lima orang harus bergegas mengungsikan anak-anak ke tempat aman. Tidak mudah bagi mereka karena bantuan dari tim SAR tidak cukup cepat tiba di lokasi. Mereka hanya bisa mengandalkan kemampuan sendiri untuk memindahkan sekitar 20 anak yang dirawat di panti.

"Saya enggak sampai ke TKP karena Jalan Cikameri sudah keburu tertutup air Sungai Cimanuk yang meluap. Itu sebisa-bisanya pengasuh mengungsikan anak-anak," kata Kasi Kesiapsiagaan BNPB Kabupaten Garut Tb Agus Sofyan kepada Liputan6.com, Jumat (23/9/2016).

Selengkapnya...

3. Berapa Jumlah Balok Batu untuk Bangun Candi Borobudur?

Candi Borobudur (sumber. pegipegi.com)

Selain untuk peribadatan, pembangunan Candi Borobudur ternyata memiliki tujuan lain. Bangunan yang dibangun selama setengah abad (770-825 Masehi) tersebut menunjukkan kekuasaan dan kejayaan kerajaan Mataram Kuno di zamannya.

"Khususnya Dinasti Syailendra (Budha) yang ketika itu bersaing dengan Dinasti Sanjaya (Hindu)," ujar Ririn Darini, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kepada Liputan6.com, Selasa, 20 September 2016.

Arsitektur candi yang digarap oleh Gunadharma itu berstruktur piramida berundak yang tersusun dari blok batu andesit. Diperkirakan ada dua juta balok yang membentuk Borobudur. Ukuran luas dasarnya 123 x 123 meter persegi dengan tinggi asli 42 meter.

Ia mengungkapkan, bangunan itu menunjukkan Kerajaan Mataram kuno cukup makmur, mempunyai pasokan tenaga kerja yang banyak, serta kemampuan agraris yang baik. Menurut dia, lahan yang subur menyebabkan hasil bumi melimpah dan itu cukup untuk memberi makan para pekerjanya.

Selengkapnya...