Sukses

Cerita Miris Petani Garam

Liputan6.com, Cirebon - Nasib para petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sungguh miris. Sejumlah petani garam memilih menimbun pasokan produk mereka karena selalu merugi.

Kerugian tersebut diakibatkan murahnya harga jual garam di tingkat petani, yakni hanya Rp 260 per kilogram. Penimbunan juga dilakukan akibat dibukanya keran impor garam di luar negeri.

"Mending ditimbun daripada dijual dengan harga murah dan mayoritas kami menimbun ditambak dan di bahu jalan Pantura," kata seorang petani garam, Kaswan, di Cirebon, Jawa Barat, pada 21 Mei 2016.

Menurut Kaswan, harga garam Rp 260 per kilogram sangat tidak bersahabat. Sebab di lain pihak mereka juga harus memikirkan biaya ongkos kirim.

Dia juga mengaku kecewa dengan sikap asosiai petani garam yang dinilai mengintervensi harga. "Tolong para penguasa jangan sengsarakan petani dengan terus impor garam," tutur Kaswan.

Sementara itu petani garam lain, Rawa (33), menuturkan, setelah adanya impor garam, harga garam lokal terus anjlok dan tidak pernah mengalami kenaikan meskipun musim hujan.

Ia menyebutkan, pada musim hujan dahulu sebelum impor garam ada, para petani masih bisa menyisihkan uang dari hasil penjualan garam.

"Musim hujan ini harga tak kunjung naik, padahal kami sudah mengaharapkan adanya kenaikan," keluh Rawa.

Karena tak memiliki gudang yang cukup dan memadai, para petani pun menimbun garam mereka di bahu jalan.

Artikel Selanjutnya
Petani Tembakau Bisa Tersenyum Lebih Lebar Musim Panen Ini
Artikel Selanjutnya
Sambut Pagi Penuh Cinta dengan Anyaman Jerami di Sawah