Sukses

Warga Jambi Ikat Rumah Agar Tak Terseret Banjir

Liputan6.com, Jambi - Banjir bandang kini tengah melanda dua daerah bertetangga di Jambi yakni Kabupaten Merangin dan Sarolangun. Belasan rumah dilaporkan terseret banjir dengan ketinggian satu hingga tiga meter.

Untuk menghindari rumah tidak terseret banjir, sejumlah warga beramai-ramai mengikat rumahnya masing-masing dengan tali. Bagian ujung tali kemudian diikatkan ke patok maupun pohon yang dinilai kuat dan berada dekat rumah.

"Warga siaga saja sembari menunggu bantuan dari tim evakuasi. Sebagian warga memang ada yang mengikat rumahnya agar tidak hanyut dan terseret," ujar Camat Tabir, Kabupaten Merangin, Akmal Zen saat dihubungi dari Jambi, Rabu 27 April 2016.

Menurut Akmal, di daerahnya banjir sudah memutuskan akses jalan dan merendam jembatan. Dia mengaku khawatir ada warga yang terjebak ditengah derasnya banjir.

Kepala BPBD Provinsi Jambi, Arief Munandar menyebutkan, banjir yang melanda dua kabupaten di Jambi itu sudah menghanyutkan 17 rumah warga. 3 di Kabupaten Sarolangun dan 14 rumah di Kabupaten Merangin.

"Satu orang kakek dilaporkan hilang terbawa arus banjir. Malam sebelum banjir kakek itu tidur di pos Desa Muara Langeh, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin. Daerah itu diterjang banjir," kata Arief.

Di Kabupaten Sarolangun, ada 3 kecamatan terendam banjir. Di Kecamatan Batang Asai, banjir melanda Desa Raden, Pekan Gedang, Paniban, Rantau Panjang dan Desa Tangkuik. Di kecamatan ini, sedikitnya ada 51 rumah terendam banjir setinggi atap.

Kemudian di Kecamatan Limun terdapat 7 desa terendam banjir. Diantaranya, Desa Lubuk Bedorong, Muaraman Sauh, Monti, Panca Karya, Temenggung, Pulau Pandan dan Mengkeday. Di Kecamatan Pauh, sebanyak 85 rumah di Desa Sepintun dan 45 rumah di Desa Segatal semua terendam banjir.

Banjir juga merendam hingga rusak satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Kecamatan Batang Asai. Padahal, PLTMH itu merupakan pembangkit sumber listrik satu-satunya di daerah itu.

Menurut Arief tingginya air banjir menyulitkan petugas BPBD dan SAR menjangkau desa-desa di Jambi yang dilanda banjir. 

"Banjir terus meluas karena meluapnya sungai. Bahkan banjir di Kabupaten Merangin belum bisa terdata pasti karena ada jalan terhalang bukit longsor," kata Arief menambahkan.

1 dari 2 halaman

Zumi Zola Sedih

Gubernur Jambi, Zumi Zola,bergelut dengan banjir belakangan ini. Bagaimana tidak, kunjungan kerjanya dalam sebulan terakhir dihabiskan untuk meninjau lokasi bencana banjir bandang di sejumlah kabupaten. Mulai dari Kabupaten Kerinci, Bungo, Merangin dan Sarolangun.

Terkini, bencana banjir bandang kembali melanda wilayah di Kabupaten Sarolangun. Dua kecamatan dilaporkan tenggelam diterjang banjir. 3 unit rumah warga hanyut dan puluhan lainnya terendam. 100 hektar lebih sawah juga berubah menjadi 'danau' dadakan. Hingga sejumlah fasilitas terendam seperti jembatan, sekolah dan tempat ibadah. Beruntung, dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak ada korban jiwa.

Kunjungan Zumi Zola meninjau lokasi banjir, Selasa 26 April 2016 kemarin merupakan kedua kalinya hanya berjarak beberapa pekan di Kabupaten Sarolangun dan Merangin.

"Saya sangat prihatin dan sedih, ini akibat meluapnya sungai Batang Limun," ujar Zumi Zola saat meninjau lokasi banjir di Desa Penegah, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun.

Selain karena luapan air sungai, Zumi Zola kembali menyinggung maraknya penambangan emas ilegal yang dinilainya memicu bencana. Penambangan ilegal memang banyak di kawasan daerah aliran anak sungai dan sungai Batanghari.

"Mari kita renungkan, semua akibat penambangan ilegal ini masyarakat banyak yang menjadi korban. Hanya segelintir orang yang menikmati hasilnya, tapi akibatnya masyarakat banyak yang jadi korban," kata Zola.

Belasan hektare sawah yang baru saja ditanami di Jambi, terendam banjir, hingga tradisi Makepung kembali digelar di Kabupaten Jembrana.

Terkait penambangan ilegal itu, Zola sebelumnya sudah melakukan pembahasan dengan pihak terkait. Salah satunya adalah membentuk tim khusus penanganan tambang ilegal. "Saya juga minta penjual BBM jangan main-main memasok BBM untuk penambangan ilegal," ujar Zola menambahkan.

Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Arief Munandar mengatakan, banjir bandang yang melanda Sarolangun bermula saat hujan lebat pada Kamis malam 21 April 2016 pekan kemarin. Ketinggian air mencapai 3 meter dan menghanyutkan sejumlah rumah warga.

Dari kabupaten Sarolangun, Zumi Zola berserta rombongan melanjutkan perjalanan meninjau lokasi banjir lainnya di Kabupaten Merangin yang lokasinya berbatasan langsung dengan Kabupaten Sarolangun.

Bupati Merangin, Al Haris mengungkapkan, bencana banjir di daerahnya merupakan yang terparah sejak 5 tahun terakhir. "Banyak rumah dan fasilitas umum rusak. Ada 3 unit jembatan gantung, puluhan Ponpes putri juga hanyut," kata Al Haris.

Pada kesempatan itu, Gubernur Zumi Zola juga menyerahkan bantuan dari Pemprov Jambi sebesar Rp 150 juta dan 1,5 ton beras serta beberapa paket makanan dan alat tidur lainnya.

Artikel Selanjutnya
Pesantren dan Rumah di Bogor Banjir, Ratusan Santri Diungsikan
Artikel Selanjutnya
Korban Banjir di Kalteng Diimbau Mengungsi dan Jauhi Sungai