Sukses

Tulang Ikan Bisa Jadi Sumber Energi Alternatif di Malang

Liputan6.com, Malang - Ikan umumnya hanya dikonsumsi dagingnya dan tulangnya menjadi limbah yang lebih banyak dibuang begitu saja. Padahal jika diolah secara tepat guna, limbah tulang ikan sangat bermanfaat termasuk dijadikan sumber energi alternatif seperti di Malang.
 
Baterai dari limbah tulang ikan adalah salah satu bukti bahwa sisa olahan makhluk laut itu masih bisa dimanfaatkan. Baterai berbahan tulang ikan ini inovasi dari Machfud Firmansyah, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur.
 
“Baterai berbahan serbuk tulang ikan dicampur garam. Ini menjadi energi yang ramah lingkungan,” kata Machfud ditemui di Laboratorium Elektro Universitas Brawijaya Malang, Selasa (26/4/2016) sore.

Mahasiswa semester 6 ini menyebut membuat baterai ini terbilang sederhana tapi butuh ketelitian. Energi yang dihasilkan dari baterai ini juga tak kalah dengan baterai pabrikan.

Untuk membuatnya dibutuhkan tulang ikan tuna seberat minimal 500 gram. Tulang hanya bagian badan, sedangkan kepala ikan dipisahkan tak dipakai.
 
Tulang ikan kemudian disangrai dan dijemur selama beberapa hari. Setelah itu, tulang dihancurkan hingga menjadi serbuk. Garam pun dicampurkan dalam serbuk itu dengan komposisi 2 gram serbuk tulang dan 1 gram garam.  Setelah dicampur, didiamkan minimal sehari penuh agar kandungan dari kedua bahan itu meresap dan menghasilkan energi.

Usai mencampur kedua bahan itu, tinggal mencari baterai bekas sesuai ukuran yang diinginkan. Baik itu baterai kecil untuk jam dinding atau besar yang biasa dipakai untuk radio. Serbuk hitam atau pasta di baterai itu kemudian dibersihkan secara manual menggunakan jarum.
 
“Campuran serbuk tulang ikan dan garam itu tinggal kita masukkan ke dalam baterai bekas yang sudah dibuang pastanya,” ucap Machfud.
 
Baterai pun sudah bisa digunakan kembali. Baterai dari tulang ikan ini mampu menghasilkan energi antara 0,9 volt sampai 1,4 volt. Jika seukuran baterai jam dinding, baterai ini mampu bertahan minimal 1 bulan penuh tak kalah dengan baterai pabrikan.
 
Energi itu sendiri sebenarnya bersumber dari garam yang mengandung natrium klarion penghasil elektron. Sedangkan tulang ikan memiliki kandungan titanium oksida dan berfungsi menjaga agar energi tak cepat habis selama pemakaian. Jika baterai telah habis, tinggal diisi lagi dengan serbuk tulang dan garam yang sebelumnya sudah dicampur.
 
“Baterai tulang ini lebih ramah lingkungan karena tak mengandung bahan berbahaya. Kalau baterai umumnya kan sampahnya bisa mencemari lingkungan,” tutur Machfud.
 
Baterai tulang ikan ini sendiri telah dikenalkan pada masyarakat Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Kawasan ini merupakan pesisir dan mayoritas penduduknya adalah nelayan.

Baterai alternatif ini disosialisasikan pada masyarakat setempat. Agar, tulang ikan tak lagi menjadi limbah tetapi bisa dimanfaatkan menjadi energi ramah lingkungan.

Artikel Selanjutnya
Ratusan Ton Ikan Mendadak Mati di Waduk Jangari, Fenomena Apa?
Artikel Selanjutnya
RI Berpotensi Kembangkan Energi Bebas Karbon